fbpx
Yawme

Mengasah Ketangguhan Diri

Bagikan Kebaikan:

Notulensi Kajian Kemuslimahan, 31 Januari 2019

Pemateri:

Ika Malika, M.Psi

(Psikolog, Koordinator Pelayan Konseling Klinik Satelit Makara)

Mengapa kita perlu menjadi pribadi yang tangguh?

Sebab, kehidupan itu penuh tantangan. Life is never flat. Ups and downs!

Ketangguhan bisa diibaratkan pisau. Setajam apapun, pasti ada saatnya pisau menjadi tumpul dan harus diasah kembali. Pun ketangguhan. Ia harus senantiasa diasah dan dibentuk.

Dalam ilmu Psikologi, dikenal istilah adversity quotient. Ini adalah sebuah kecerdasan dalam merespon dan mengatasi kesulitan untuk mencapai kesuksesan.

Kecerdasan ini seringkali digambarkan seperti sebuah pendakian. Dalam pendakian, ada tiga tipe individu yang akan kita temui: quiters, campers, dan climbers.

???? Quitters adalah orang yang mudah menyerah. Ketika diuji, pilihan pertamanya adalah menyerah, putus asa, bahkan sebelum mencoba mengatasi kesulitan itu.

???? Campers adalah orang sudah berusaha mengatasi kesulitan tetapi di tengah perjalanan, ia merasa cukup. Ia berusaha seadanya dan berhenti di zona nyaman. Padahal, bila di-push, ia sebenarnya mampu berbuat lebih.

???? Climbers adalah orang yang memiliki keyakinan dan kemauan untuk terus mendaki hingga menggapai puncak.

Tentu perjalanan dan tantangan yang dihadapi ketiganya sama. Tapi mengapa tipe climbers memiliki motivasi dan mampu menyelesaikannya?

Jawabannya adalah tujuan. Ketika meniti perjalanan di dunia, tujuanlah yang menjadikan kita termotivasi.

Di dalam Al-quran, diabadikan tiga kisah muslimah tangguh yang bisa kita teladani:

???? Asiyah istri Fir’aun

Tentu tidak mudah menjalani kehidupan bersama pasangan yang mengakui dirinya sebagai Tuhan. Tapi ibunda Asyiah yakin akan tujuan yang lebih besar. Ia senantiasa berdoa, “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim”. (QS. 66:11)

???? Siti Maryam

Ia adalah ibunda dari Nabi Isa alaihissalam yang dikenal sebagai wanita paling ikhlas dan sabar menghadapi hinaan dari kaumnya. Ia diberi kemuliaan sekaligus ujian dengan memiliki seorang anak tanpa pernah disentuh laki-laki.

???? Siti Hajar

Istri dari Nabi Ibrahim alaihissalam ini adalah sosok yang tegar, tangguh, dan tawakkal menghadapi ujian bertubi-tubi ketika ditinggalkan seorang diri mengasuh bayinya di lembah gersang tak berpenghuni.

Baca Juga:  Hadits Arba'in #6: Dalil Halal dan Haram Telah Jelas

Jika diperhatikan, pada umumnya, orang-orang sukses adalah mereka yang pernah mengalami kesulitan.

Ya, situasi sulit tak selamanya menyisakan kepedihan. Justeru, situasi itu melentingkan daya juang.

Daya juang dikenal dengan istilah resilience, dari kata reslilire, yang diartikan sebagai bounce back. Ini adalah kemampuan untuk bertahan atau pulih secara cepat dari situasi sulit.

Ibarat bola, jika dilempar ke bawah, ia akan segera memantul, bahkan bisa jadi lebih tinggi dari titik awal.

Dalam situasi sulit, respon setiap orang berbeda-beda. Ini dipengaruhi oleh tiga faktor:

???? I am

Ini adalah kekuatan yang dimiliki dalam diri seseorang. Cara kita memandang diri sendiri akan mempengaruhi cara kita menghadapi kesulitan. Ketika mengalami hambatan, kita seringkali merasa tak bisa apa-apa. Namun, ketika kita membangun pikiran positif, resiliensi/ daya juang akan melejit dengan sendirinya.

Pikiran positif itu misalnya:

a. Perasaan dicintai dan bangga pada diri sendiri (self esteem)

Di antara kekurangan yang ada dalam diri, percayalah, kita adalah the best creation of Allah. Ciptaan Allah adalah hasil kesempurnaan penciptaannya, bukan kesempurnaan di mata kita. Jadi, belajarlah mencintai diri dan berhenti membanding-bandingkan dengan orang lain.

b. Empati dan altrustik (dorongan untuk menolong)

Kepedulian terhadap orang lain akan meningkatkan ketangguhan kita. Justeru, jika fokus dengan diri, belum tentu kita terakselerasi. 

c. Otonomi dan tanggung jawab

Kita memilih perjalanan kita. Pun, cara berpikir dan melihat situasi, juga pilihan kita. Dan ketika ada guncangan, kita akan bertahan ketika ada pegangan. Senantiasalah menggantungkan harapan, keyakinan, dan kepercayaan pada yang memberi masalah, yang maha tahu jalan keluar.

???? I have

Ini adalah dukungan eksternal dan sumber-sumbernya, misalnya:

a. Hubungan yang dipercaya

Keluarga, pasangan, atau teman yang dipercaya dapat menjadi healing, penyaluran emosi yang positif, apalagi ketika kita mendapat sudut pandang atau solusi.

b. Role models

Salah satu kunci sukses adalah memiliki mentor atau panutan dalam moral yang menjadi sumber daya untuk bangkit

Baca Juga:  H-100 Ramadhan

c. Dukungan untuk menjadi mandiri.

Ada kalanya, kita butuh orang yang membantu kita menjadi orang yang tangguh dengan tidak selalu membantu. Misalnya orang tua yang tidak memanjakan anak-anaknya dalam mendidik.

e. Akses pada daya dukung lain seperti kesehatan, pendidikan, kesejaheraan, dan layanan keamanan.

???? I can

Ini menyangkut kemampuan interpersonal, misalnya:

a. Kemampuan berkomunikasi, termasuk mengungkapkan pikiran, perasaan dengan baik.

Alamiahnya, tubuh kita bergerak mencari keseimbangan. Ketika yang ada di dalam tidak dikomunikasikan, bisa-bisa larinya ke fisik. Banyak orang mengalami keterpurukan karena menyimpan masalahnya sendiri.

b. Kemampuan memecahan masalah.

Ini dilatih dengan cara mengukur tempramen diri sendiri dan orang lain. Kita perlu mencari tahu cara-cara untuk menangkan diri. Menariknya, seluruh syariat, seperti salat, puasa, berhijab tujuannya untuk menenagkan.

c. Kemampuan membangun hubungan yang dapat dipercaya.

Orang yang ramah cenderung tangguh karena ketika mengalami masa sulit, ia memiliki daya dukung yang luas.

Kesimpulannya, untuk meningkatkan resiliensi, kita hendaknya:

1. Membangun sudut pandang positif terhadap tantangan dengan cara:

–  Mengingat tujuan dan makna yang lebih besar. Ketika mengalami ujian, tanamkan bahwa ujian itu untuk membutikan keimanan. Lagipula, bukankah setiap ujian itu menggugurkan dosa? Sesederhana ketika kaki tertusuk duri pun, dapat menjadi penggugur dosa.

–  Fleksibe dan adaptif. Cara yang satu tak berhasil, coba cara lain.

2. Fokus pada solusi dan/ atau hikmah dari sebuah kejadian.

3. Miliki keterampilan problem solving

4. Miliki hubungn yang nyaman

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Al Hadid: 22-23)

Sumber


Bagikan Kebaikan:

Yawme Doa