fbpx
Yawme

Rahasia Langit Tentang Rezeki

Bagikan Kebaikan:

RAHASIA LANGIT TENTANG RIZKI

Beberapa hari ke belakang saya ketemu beberapa orang Bapak yang bikin hati saya meleleh.

Pertama, Bapak penjual pisang di gerobak. Bapak ini sudah tua, gak pakai sendal, dan dorong gerobak penuh pisang. Pas berangkat ngaji (naik ojek online) saya ketemu bapak ini di deket perempatan lampu merah ARH Beji, pas pulang ngaji saya ketemu lagi Bapak ini di jalan menuju rumah saya. Lumayan jauh juga Bapak ini jalan. 🙁

Kedua, saya ketemu bapak-bapak jualan balon pagi banget udah gowes sepeda di perempatan lampu merah padahal hari itu hari sabtu, sangat mendung, dan sangat berangin.

Hampir jarang liat orang jalan kaki di sana, apalagi anak-anak. Terus saya jadi mikir, Yaa Allah itu siapa yang bakal beli dagangan bapak itu?

Ketiga, saya liat bapak-bapak jualan lemari, bale-bale, bahkan jualan pintu, keliling dari kampung ke kampung diangkut pake bahu. Saya jadi kepikiran juga, kira-kira berapa persen ya orang yang beli barang-barang itu, apakah orang-orang bakal beli di bapak-bapak keliling itu atau memilih beli di toko yang pilihan barangnya lebih banyak dan harga beragam. Berarti probabilitas orang beli barang-barang dagangan yang dijual bapak-bapak keliling itu makin kecil dong? Padahal ngangkut bale-bale, lemari, atau sejenisnya pake bahu keliling jalan kaki kan bukan perkara mudah. Bapak-bapak itu pangsa pasarnya siapa ya? Berapa penghasilannya sehari? Apakah tiap hari ada yang beli dagangannya? Dan apa alasan yang membuatnya bertahan dengan pekerjaan itu? Muncul banyak pertanyaan di kepala saya.. Pertanyaan kayak gini pernah kepikiran juga ga sih gaes?

Saya terngiang-ngiang,

“Dan di langit rizki kamu sudah ditetapkan. Tidak akan tertukar.” – QS. 51:22

Saya ngerasa pertanyaan-pertanyaan saya tentang bapak-bapak pedagang keliling tadi kayak “puzzle” dengan ayat yang saya dengar secara gak sengaja.

Kalau setiap orang yang berangkat kerja benar-benar menghidupkan ayat ini, maka tidak akan pernah surut semangat kita untuk bekerja dan tidak akan pernah kecewa dengan penghasilan kita, berapa pun itu, karena rizki kita sudah ditetapkan Allah di langit dan tidak akan tertukar dengan orang lain.

Baca Juga:  Selamatkan Temanmu Dengan Nasihat Kebaikan

Kalau kita sambungin dengan bapak-bapak yang jualan keliling tadi, bayangin aja yah, mikul barang dagangan segitu beratnya keliling berkilo-kilometer jalanan tiap hari, berangkat pagi banget, kalau enggak yakin bahwa ada rizki yang harus dijemputnya yang belum diketahui ada di jalanan yang mana, didapatkan setelah berapa peluh menetes, dan sebagainya, tentu berat banget menjalani pekerjaan seperti ini. Bisa-bisa besok gak mau jualan lagi kalau keyakinan itu surut. Iya gak sih?

Terus bayangin kalau semua orang putus asa untuk bekerja, kecewa dengan penghasilannya, maka berapa banyak pengangguran, berapa banyak orang yang tidak bersyukur dengan rizki Allah, berapa banyak rumah tangga yang retak karena meributkan penghasilan suami.

Kita tidak pernah tahu rizki kita ada di belahan bumi yang mana, maka kita butuh bergerak dan berupaya menjemput rizki kita. Logikanya, rizki kita kan di langit kalau Allah turunkan ke bumi (yang mana bumi Allah itu sangat luas), maka dibutuhkan mobilitas/gerakan dan upaya dari kita mengambil rizki itu. Bayangin aja, misalnya saya tinggal di Depok, ternyata rizki saya “jatuhnya” di Serang, Makassar, Aceh, dll. Maka saya harus berupaya menjemput rizki-rizki itu semampu yang saya bisa dengan berbagai ikhtiar saya. Artinya, saya harus bergerak dan berupaya. Ada usaha untuk menjemputnya karena rizki tidak jatuh dari langit langsung menimpa kita.

Saya salut banget sama orang yang pagi-pagi udah keringetan. Orang lain masih pada tidur, dia sudah buru-buru bangun mengerjakan ini-itu dalam upaya menjemput rizkinya yang bertebaran di muka bumi.

Ada orang-orang yang kerja megang pulpen, laptop, kertas (kantoran), tapi salat subuh kesiangan dan belum melakukan sesuatu yang produktif saat matahari udah tinggi padahal nominal gajinya udah pasti. Sebaliknya, ada orang-orang yang penghasilannya “nggak pasti” (tapi dia yakin pasti ada rezeki hari itu) yang dia jemput sedari pagi dengan berangkat bermandi peluh yang tentu gak ringan menjalaninya.

Baca Juga:  Mimpi Muda Bisa Haji

Maka, bersyukurlah dengan kerjaan kita masing-masing. Yakin aja bahwa apa pun pekerjaan kita kalau kita sungguh-sungguh, do the best (ihsan) ngerjainnya Insya Allah bakal mengundang banyak keberkahan, apalagi sekadar mendapatkan rizki yang jelas-jelas sudah Allah tetapkan dan tidak akan tertukar dengan orang lain. Insya Allah mudah bagi Allah memberikan itu semua kalau Allah ridho atas kerja keras kita.

Kalau rizki Allah ditentukan dari besarnya tenaga yang keluar, pastilah kuli bangunan jadi orang paling kaya sedunia. Kalau rizki Allah ditentukan dari kecerdasan, pastilah para ilmuwan jadi orang yang depositonya paling besar se-Indonesia. Tapi, ternyata enggak kan ya. Artinya, Allah sudah mengukur dan benar-benar menetapkan rizki kita. Tinggal kita jemput dengan sebaik-baik cara yang halal agar takdirnya Allah dan usaha kita bertemu pada sebuah titik realita yang indah, yaitu didapatkannya sebaik-baik rizki dari usaha kita.

Dan yang perlu disadari tentang definisi rizki itu sendiri gak mesti dalam bentuk uang atau harta. Anak-anak sehat, orang tua sehat, rumah tangga adem ayem, istri/suami menyenangkan, cinta dan kasih sayang hadir di rumah, itu semua juga kan rizki. Jadi, emang kudu bener-bener dirasain satu per satu apa yang kita punya agar menambah syukur kita dan memperluas pandangan kita bahwa ternyata rizki Allah yang meliputi kita banyak banget. Tinggal jemput rizki lainnya yang masih bertebaran di muka bumi Allah dengan penuh keyakinan dan semangat serta diimbangi dengan berjuta syukur untuk menambah qona’ah (merasa cukup dengan apa pun yang dimiliki) dan berkah sehingga kita mudah memberi (sedekah) dan tidak merasa kekurangan.

Selamat menjemput rizki kita masing-masing yang bertebaran di muka bumi dengan upaya terbaik kita ya temans. 😉


Bagikan Kebaikan: