fbpx
Yawme

Biper, Bukan Baper

Bagikan Kebaikan:

Pemirsa, mengapa perasaan sebegitu dikerdilkan? 

Ia kerapkali digandengkan dengan kata “bawa”– hingga terbentuklah istilah “bawa-bawa perasaan” alias baper. Heheh.

Malangnya, “baper” seringnya diidentikkan dengan urusan galau. Lebih spesifik lagi, galau percintaan. Padahal, “perasaan” adalah serangkaian tanda yang sungguh kompleks, abstrak, tebal, kaya, powerful, dan menggerakkan– dibanding pemikiran. Maknanya berlapis-lapis. 

Perasaan– datangnya langsung dari Ilahi. Perasaan adalah anugerah. Saking tebal dan kaya-nya sebuah perasaan, butuh upaya manusia untuk menyederhanakan abstraksi ini. Hasil penyederhanaan inilah yang dinamakan pemikiran.

Pemikiran merapikan dahsyatnya perasaan yang hinggap. Lapis-lapis perasaan, dapat dikupas oleh pikiran manusia yang canggih nan berbatas. Dalam tiap lapis, terdapat makna yang menyengat.

Seorang rekan pria kira-kira berceletuk begini, “Kepekaan itu diperluin banget, baik bagi perempuan maupun laki-laki. Kepekaan~ membantu kita menyibak sesuatu yang tak terlihat.” Wow, lega rasanya mendengarnya dari lisan pria. Haha. Kemudian, rekan sesama manajer di Salman bilang begini “Ideologi adalah sesuatu yang tidak rasional.”

Hem. Saya jadi ingat. Jika segala sesuatu sebenarnya bisa dirasionalisasikan. Dibikin logis. Tergantung kecenderungan (kehendak) kita lebih ke mana. “Intelek hanyalah tangan kanan kehendak (the minister of foreign affairs); alam menciptakan intelek untuk melayani kehendak individu,” begitu ujar pemikir Jerman Arthur Schoppenhauer.

Dalam buku Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi karya West dan Turner, disebutkan jika kisah naratif lebih ampuh sebagai materi kampanye pemilihan presiden mahasiswa universitas– ketimbang seperangkat logika. Terdapat calon yang memaparkan kepeduliannya terhadap kaum minoritas dengan gaya narasi. 

Sedangkan rivalnya, hanya memaparkan gaya kampanye “Kalau saya terpilih, maka kampus akan blablabla..” Ternyata, memang, gaya komunikasi narasi  jauh lebih powerful. Di dalamnya terdapat unsur rasionalisasi, dan dipadukan dengan sengat perasaan murni sang penutur.

Baca Juga:  Yawmengaji: 3 Tips Tobat dari Sombong oleh Ust. Banu

Salah seorang dosen Fisika ITB, Pak Suparno Satira– pernah bilang begini. Ada ilmuwan yang bertahun-tahun meneliti kandungan Bahasa Alquran. Ia tak kunjung berislam, hingga jiwanya tertumpas syahdu azan di tengah padang pasir Afrika. Semenjak itu, ia menyerahkan sepenuh jiwa raga teruntuk Islam. Lantas, mengapa perasaan terkadang dipersalahkan, pemirsa?

Bukan perasaannya yang salah. Namun, penyikapan dari diri yang menjadikannya sedemikian salah. Menurutku, perasaan ialah seperangkat kode langsung dari Ilahi. Baik itu marah, kesal, gembira, naksir, malu, dan lain sebagainya. Memecahkan kode secara salah (atau dibumbui hawa nafsu), maka hasilnya pun akan buruk.

Seperti misal, saya cemburu bukan main terhadap orang-orang yang punya karya tulis bagus. Salah jika saya kemudian membenci mereka dan mencari alasan “Ah, mereka kan sudah hidup mudah dari dulu. Ah, mereka kan orangtuanya supportif.” 

Berarti, rasa cemburu tersebut dikonversi menjadi energi negatif.

Namun, sebenarnya rasa cemburu tersebut berpotensi besar untuk menyalakan api berkarya dalam diri. Kecemburuan dapat menjadi energi pemantik semangat meramu karya. Atau, ketika  naksir orang. Jujur ketika tertarik dengan lawan jenis , biasanya terdapat melankolia yang mencengkram.

Sayangnya, iklim masyarakat membuat individu menerjemahkan rasa tersebut secara tidak tepat. Seperti “Aku ingin dia jadi milikku. Kalau nggak, aku galav.”

Padahal, rasa ketertarikan terhadap seseorang bisa jadi suatu pembelajaran dari Allah. Pemikiran menjadi kunci untuk menerjemahkan perasaan kuat-melekat tersebut.

Dari pengalaman pribadi, selalu saja ada pelajaran yang Allah titip ketika tengah kasmaran. Entah saya jadi fokus untuk mempelajari skill baru dari kelebihan orang yang saya sukai. Atau jadi lebih “masuk” menasihati kawan yang tengah dimabuk rasa karena sama-sama merasakan.

Baca Juga:  Hidup Itu Cepat, Hidup Itu Singkat

Atau sesimpel jadi sering mengucap istigfar karena terganggu dengan kemelekatan perasaan tersebut. Jadinya lebih ingat Allah, kan? #alhamdulillah

Jadi, bukan baper lagi kan ini namanya? Tapi, biper, alias terbimbing perasaan. 🙂

Lalu, bagaimana agar mata hati menangkap sinyal rasa dariNya? Secara tepat.

Kan ngeri juga, ya. Tatkala hawa nafsu buruk yang menangkap sinyal rasa, maka otak pun membuat logika akan sikap kita yang salah. 

Jadi..

Dekati Dia. Cintai.

Nggak deket?

Selalu cari cara dekati Dia. 

Belum cinta? Mohon agar diberi cinta yang tertanam tulus dariNya, dan untukNya semata.

Sebuah hadist mengatakan, ibadah sunnah membuat seorang hamba memilki persangkaan yang berkembar dengan persangkaan Ilahi. Tentu, ibadah wajiblah yang mesti dirawat secara kontinu.

Huah. 

Ini– terus terang– saya juga masih belajar, wahai pemirsa.

Akhirul kalam, izinkan saya menukil apa yang pernah terucap. pada deskripsi jepretan foto di akun instagram pribadi. Ada masa dimana saya begitu terbawa perasaan diri sendiri. Ada pula masa dimana saya mengacuhkan perasaan diri sendiri. 

Kini saya belajar untuk tidak terbawa perasaan namun juga tidak mengacuhkan perasaan. Saya belajar untuk berkomunikasi dan mengevaluasi gejolak perasaan saya sendiri. Apa maksud Allah memberikan ayat-ayat kauniyah berupa ragam perasaan yang rumit ini? Apa yang hendak Ia ajarkan? 🙂

Bersyukurlah diberi rasa untuk mengkhidmati pesanNya. Bersyukurlah diberi rasio untuk menyibak pesanNya. 

Wallahu’alam bish shawab.


Bagikan Kebaikan: