fbpx
Yawme

Belajar Tawakkal Dari Yokhebed, Ibunda Nabi Musa AS

Bagikan Kebaikan:

Dahulu, ada seorang ibu menghanyutkan bayi laki-lakinya di sungai Nil dengan keranjang. Kalau terjadi di zaman sekarang, pastinya kamu sudah mengerutkan kening sambil berpikir, “Kok ada ya ibu yang setega itu?”. Tapi, saat itu tindakan tersebut justru dilakukan untuk menyelamatkan sang anak. Siapa dia? Dialah Yokhebed, Ibunda Nabi Musa ‘Alaihissalaam.

Yokhebed hidup saat Mesir berada di bawah kekuasaan Fir’aun yang tidak mengizinkan ada bayi laki-laki yang hidup dari Bani Israil. Setiap ada bayi laki-laki lahir, ia langsung memerintahkan bala tentaranya untuk mencari dan membunuh bayi tak berdosa itu. Ckck, kejam banget ya! Ternyata, Fir’aun sangat penakut. Ia takut akan ramalan dukun-dukunnya bahwa akan lahir bayi laki-laki dari Bani Israil yang kelak akan meruntuhkan kekuasaannya.

Maha Besar Allah yang membuat kehamilan Yokhebed tidak diketahui Fir’aun dan jajarannya. Bahkan setelah bayi Musa lahir, Allah masih menyembunyikannya. Yokhebed khawatir luar biasa, nyawa putranya berada dalam bahaya. Allah-lah yang kemudian menurunkan ilham kepada Yokhebed untuk menghanyutkannya di sungai Nil. Allah berfirman pada QS Al-Qasas ayat 7,

Baca Juga:  Pemuda Harus Keren!

“Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, “Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang Rasul.” (QS. Al-Qasas:7)

Ia pun melakukan perintah Allah untuk meletakkan bayi Musa di sebuah peti dan menghanyutkannya ke sungai Nil. Masya Allah! Meskipun ia sedih, ia percaya pada kuasa Allah. Cukup Allah yang menyelamatkan buah hatinya. Sebagai upaya, Yokhebed meminta putrinya untuk mengikuti kemana arus sungai membawa bayi Musa.

Janji Allah Selalu Benar

Atas kehendak Allah, peti Musa menuju istana dan ditemukan oleh Asiyah, istri Fir’aun, yang kemudian meminta pelayannya untuk mengambil peti tersebut. Ia terkejut dan seketika jatuh hati dengan bayi lucu itu. Maka, ia pun membujuk Fir’aun untuk mengadopsi Musa sebagai anak angkat.

“Dia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak,” kata Asiyah kepada Fir’aun. (QS. Al-Qasas: 9)

Baca Juga:  Apa yang pertama kali dihisab?

Untuk pertama kalinya, Fir’aun tidak membunuh bayi laki-laki dari Bani Israil yang tak lain adalah Nabi Musa. Sang kakak merasa senang atas keselamatan adiknya. Tetapi, Yokhebed tetap sedih karena kehilangan putranya.

Skenario-Nya memanglah terbaik. Allah berkehendak untuk mencegah bayi Musa menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusuinya.

“Maukah aku tunjukkan kepadamu, keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik padanya?” tawar saudarinya Musa kepada Asiyah, keluarga yang ditawarnya tak lain adalah Yokhebed, ibundanya sendiri (QS Al-Qasas:12). Setelah Asiyah menerima tawarannya, Yokhebed pun dapat kembali memeluk putranya yang tercinta. Allah berjanji untuk mengembalikannya, dan Allah tak pernah sekalipun menyalahi janjinya.

Dari kisah Yokhebed, kita harus yakin kalau kebaikan dalam perintah dan ketetapan-Nya adalah pasti. Mungkin sekarang belum terlihat, tapi bukan berarti nggak ada kan? Kadang kita menghakimi Allah. Allah nggak adil, peraturan-Nya nggak masuk akal, bahkan kita menganggap Allah nggak sayang sama kita. Padahal, masa iya Allah ngasih aturan yang membawa keburukan bagi hamba-Nya?

Yawmate, semoga kita bisa lebih husnuzan dengan Allah. Percaya deh, semua ketetapan-Nya pasti yang terbaik buat kita!


Bagikan Kebaikan:

Faizah Amhar