fbpx
Yawme

Belajar Dari Sang Juara

Bagikan Kebaikan:

Lalu Muhammad Zohri, sprinter muda yang ‘mencuri’ perhatian warganet setelah berhasil mengharumkan nama Indonesia di kejuaraan Internasional.

Zohri menjadi sang juara di lomba lari 100 meter Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Tempere, Finlandia 11 Juli 2018 lalu.

Prestasi yang bukan hanya membanggakan dirinya, namun juga bagi seluruh rakyat Indonesia.

Reward pun datang berbondong-bodong, mulai dari berbagai LSM, Menteri hingga Presiden. Dari prestasi Zohri, kita dapat belajar beberapa hal.

  • Pertama, keridhoan Allah menjadi poin penting dalam setiap aktivitas kita.

Seperti yang dikatan Zohri, “Sebelumnya, saya tidak menyangka bisa menjadi juara dunia. Namun, berkat percaya diri dan bantuan Tuhan, saya bisa menjadi juara,”. Bab kita adalah berusaha. Soal hasil akhir? biar Allah yang tentukan. Do your best and let Allah do the rest!”.

  • Kedua, penghargaan tidak berdasarkan keturunan tetapi hadir dari amal atau kerja.

Lahir dari keluarga tak mampu dan harus menjadi seorang yatim piatu. Hidup Zohri terlampau sedehana. Ia terkenal jarang memakai sepatu saat lari di kampungnya dulu, karena tidak ada uang untuk membeli sepatu.

Baca Juga:  Meminta Nasihat Kepada Teman #30KebaikanRamadhan

Namun berkat kerja keras dan tekat yang kuat, Zohri dapat menjadi sang juara. Sebagaimana Islam mengajarkan, bahwa penghargaan bukan berdasarkan keturunan, namun dari amal kita.

“Bahwa yang diperoleh manusia hanya apa yang diusahakannya. Bahwa usahanya akan segera terlihat” (QS. 53: 39-40).

  • Ketiga, menjadi muslim yang prestatif. Sebagai seorang muslim yang berusaha menyeru manusia kepada kebaikan haruslah menjadi muslim yang prestatif.  

Karena ketika seseorang berprestasi maka ia akan lebih didengar dan dihargai oleh lingkungan sekitarnya. Dengan begitu, akan mudah untuk mengajak manusia melakukan kebaikan dan mendekatkan diri kepada nilai-nilai Islam.

Semoga kita dapat belajar dari Sang Juara ya, Yawmate!


Bagikan Kebaikan: